awas keputihan gejala penyakit menular seksual trichomoniasis

Awas! Keputihan Gejala Penyakit Menular Seksual Trichomoniasis!

Keputihan merupakan hal yang umum terjadi pada kaum wanita. Keputihan adalah kondisi saat keluarnya lendir atau cairan dari vagina. Cairan yang diproduksi kelenjar vagina dan leher rahim akan keluar membawa sel mati dan bakteri ketika seorang wanita sedang dalam masa haid.

Keputihan sebenarnya adalah hal yang normal dan sehat karena cairan yang keluar akan melindungi vagina dari infeksi. Namun keputihan sering membuat tidak nyaman dan resah, apalagi bila kondisi ini terjadi berulang.

Bahkan, keputihan yang tidak normal akan mengalami perubahan warna, tekstur, dan bau. Kondisi inilah yang harus diwaspadai perempuan. Hal ini bisa menjadi tanda keputihan abnormal yang disebabkan oleh infeksi atau kelainan pada organ reproduksi wanita.

Baca juga: Trichomoniasis, Infeksi Menular Seksual Paling Umum di Seluruh Dunia

Gejala keputihan yang tidak normal, antara lain:

  • Mengalami perubahan warna menjadi kuning atau hijau
  • Timbul bau yang menyengat
  • Cairan keluar lebih banyak dari biasanya
  • Keputihan lebih tebal dan lengket
  • Keluar darah setelah berhubungan intim atau tidak dalam masa haid
  • Gatal dan kemerahan pada area kewanitaan
  • Rasa terbakar pada vagina
  • Nyeri saat buang air kecil dan area panggul

Trichomoniasis Sebabkan Keputihan Tidak Normal

trichomoniasis sebabkan keputihan tidak normal
Keputihan yang tidak normal bisa disebabkan oleh infeksi Trichomoniasis.

Keputihan yang tidak normal bisa disebabkan oleh sejumlah kondisi, salah satunya infeksi Trichomoniasis. Trichomoniasis adalah penyakit menular yang disebarkan melalui hubungan seksual. Selain hubungan seksual, penyakit ini juga dapat ditularkan dengan berbagi pakai alat bantu seks dengan penderita Trichomoniasis.

Trichomoniasis disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis, yakni protozoa motil berflagela. Ukuran rata-rata trichomonad adalah 15 mm dan tidak terlihat dengan mata telanjang. Reproduksi parasit dapat terjadi setiap 8-12 jam.

Setiap tahunnya, sekitar 174 juta orang di seluruh dunia terinfeksi parasit ini. Oleh karena itu, Trichomoniasis menjadi infeksi menular seksual (IMS) paling umum di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 3,7 juta orang di Amerika Serikat terinfeksi penyakit ini dan hanya sekitar 30 persen dari orang-orang tersebut yang akan memiliki gejala.

Penyakit ini bisa menyerang pria maupun wanita. Meski demikian, kondisi ini lebih sering ditemui pada wanita. Belum diketahui secara pasti mengapa wanita lebih sering terinfeksi daripada pria. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah cairan prostat mengandung zat seng dan zat lain yang bisa berbahaya bagi trikomonad.

Gejala Trichomoniasis

gejala trichomoniasis
Gejala utama Trichomoniasis adalah keputihan abnormal.

Tidak semua orang yang terinfeksi Trichomoniasis dapat merasakan gejalanya. Sekitar 70 persen penderita tidak dapat merasakan gejala apapun. 30 persen lainnya akan merasakan gejala Trichomoniasis setelah 5 – 28 hari terjangkit penyakit ini.

Gejala Trichomoniasis pada perempuan berupa:

  • Keputihan yang banyak dan berbau amis.
  • Keputihan berwarna kuning kehijauan, bisa kental atau encer, serta berbusa.
  • Gatal-gatal yang disertai rasa terbakar dan kemerahan di area vagina.
  • Nyeri saat berhubungan seksual atau saat buang air kecil.
  • Merasa nyeri pada perut bagian bawah.

Penyebab Trichomoniasis

penyebab trichomoniasis
Salah satu penyebab Trichomoniasis adalah hubungan seksual.

Ada beberapa faktor risiko untuk penyakit Trichomoniasis, antara lain:

  • Kerap bergonta-ganti pasangan seksual
  • Melakukan hubungan seksual yang tidak aman, seperti tidak menggunakan alat pengaman atau kondom
  • Berbagi pakai alat bantu seksual
  • Pernah mengalami infeksi menular seksual sebelumnya

Baca juga: Apa Saja Penyakit Menular Seksual?

Meski demikian, beberapa aktivitas seperti seks oral, seks anal, ciuman, dudukan kloset, dan berbagi pakai alat makan dan alat pribadi tidak dapat menularkan penyakit ini.

Komplikasi Trichomoniasis

komplikasi trichomoniasis
Trichomoniasis yang tidak ditangani dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius, terutama pada ibu hamil.

Trichomoniasis yang tidak ditangani dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius, terutama pada ibu hamil. Ibu hamil yang mengidap penyakit ini dapat menularkan Trichomoniasis ke bayinya saat proses persalinan. Akibatnya, bayi terlahir prematur atau terlahir dengan berat badan rendah.

Selain itu, Trichomoniasis yang terjadi pada wanita dapat membuat penderitanya lebih rentan terkena infeksi HIV.

Pengobatan Keputihan pada Trichomoniasis

pengobatan keputihan pada trichomoniasis.
Dokter akan melakukan pemeriksaan lab untuk mengobati Trichomoniasis.

Untuk memastikan bahwa keputihan abnormal yang dialami seorang wanita merupakan gejala penyakit Trichomoniasis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada organ kelamin pasien, serta mengambil sampel cairan vagina untuk diteliti di laboratorium.

Butuh waktu beberapa hari untuk melakukan pemeriksaan sampel cairan vagina. Meski hasil lab belum keluar, pasien tetap akan ditangani untuk mengurangi risiko penularan infeksi.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pasien poisitif menderita Trichomoniasis, dokter akan menyarankan pasangan seksual pasien untuk diperiksa dan diobati juga.

Untuk mengobati Trichomoniasis, dokter akan meresepkan antibiotik. Obat antibiotik bisa diminum sebagai dosis tunggal dan besar, atau dikonsumsi 2 kali sehari, selama 5-7 hari, dengan dosis yang lebih kecil.

Meski pengobatan Trichomoniasis dapat dilakukan melalui obat-obatan, Anda tetap harus berada di bawah pengawasan dokter spesialis untuk benar-benar menyembuhkan penyakit ini sampai tidak kambuh lagi.

Pasien juga dilarang melakukan hubungan seksual sampai dinyatakan sembuh oleh dokter. Selain itu, pasien harus menghindari konsumsi minuman beralkohol selama 24 jam setelah mengonsumsi antibiotik, karena bisa menyebabkan mual dan muntah.

Penyakit Trichomoniasis biasanya sembuh dalam tujuh hari. Walau begitu, pasien dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan lagi ke dokter dalam 3 minggu hingga 3 bulan setelah pengobatan untuk memastikan dirinya tidak terinfeksi kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *