trichomoniasis infeksi menular seksual paling umum di seluruh dunia

Trichomoniasis, Infeksi Menular Seksual Paling Umum di Seluruh Dunia

Trichomoniasis adalah penyakit menular yang disebarkan melalui hubungan seksual. Selain hubungan seksual, penyakit ini juga dapat ditularkan dengan berbagi pakai alat bantu seks dengan penderita.

Sayangnya, banyak orang yang sudah terinfeksi tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit Trichomoniasis. Pasalnya, gejala pada penyakit ini tidak terlalu nampak dan terasa.

Namun, infeksi ini dapat memicu komplikasi, seperti ketidaksuburan, infeksi jaringan kulit vagina (selulitis) pada wanita, dan menyebabkan tersumbatnya uretra pria. Selain itu, infeksi yang terjadi pada masa kehamilan dapat mengakibatkan kelahiran prematur dan berat badan bayi yang ringan.

Penyebab Trichomoniasis

penyebab trichomoniasis
Trichomoniasis disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis .

Trichomoniasis disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis, yakni protozoa motil berflagela. Ukuran rata-rata trichomonad adalah 15 mm dan tidak terlihat dengan mata telanjang. Reproduksi parasit dapat terjadi setiap 8-12 jam.

Setiap tahunnya, sekitar 174 juta orang di seluruh dunia terinfeksi parasit ini. Oleh karena itu, Trichomoniasis menjadi infeksi menular seksual (IMS) paling umum di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 3,7 juta orang di Amerika Serikat terinfeksi penyakit ini dan hanya sekitar 30 persen dari orang-orang tersebut yang akan memiliki gejala.

Penyakit ini bisa menyerang pria maupun wanita. Meski demikian, kondisi ini lebih sering ditemui pada wanita. Belum diketahui secara pasti mengapa wanita lebih sering terinfeksi daripada pria. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah cairan prostat mengandung zat seng dan zat lain yang bisa berbahaya bagi trikomonad.

Gejala Trichomoniasis

gejala trichomoniasis
Tidak semua orang yang terinfeksi Trichomoniasis dapat merasakan gejalanya.

Tidak semua orang yang terinfeksi Trichomoniasis dapat merasakan gejalanya. Sekitar 70 persen penderita tidak dapat merasakan gejala apapun. 30 persen lainnya akan merasakan gejala setelah 5 – 28 hari terjangkit penyakit ini.

Pada wanita, gejala bisa berupa:

  • Keputihan yang banyak dan berbau amis.
  • Keputihan berwarna kuning kehijauan, bisa kental atau encer, serta berbusa.
  • Gatal yang disertai rasa terbakar dan kemerahan di area vagina.
  • Nyeri saat berhubungan seksual atau saat buang air kecil.
  • Merasa nyeri pada perut bagian bawah.

Sedangkan, gejalanya pada pria seperti:

  • Sakit, bengkak, dan kemerahan di area ujung penis.
  • Keluar cairan putih dari penis.
  • Nyeri saat buang air kecil atau setelah ejakulasi.
  • Lebih sering buang air kecil dari biasanya.

Faktor Risiko Trichomoniasis

faktor risiko trichomoniasis
Beberapa faktor risiko untuk penyakit Trichomoniasis.

Ada beberapa faktor risiko untuk penyakit Trichomoniasis, antara lain:

  • Kerap bergonta-ganti pasangan seksual
  • Melakukan hubungan seksual yang tidak aman, seperti tidak menggunakan alat pengaman atau kondom
  • Berbagi pakai alat bantu seksual
  • Pernah mengalami infeksi menular seksual sebelumnya

Baca juga: Klamidia, Penyakit Seksual Menular Akibat Tanpa Alat Pengaman

Meski demikian, beberapa aktivitas seperti seks oral, seks anal, ciuman, dudukan kloset, dan berbagi pakai alat makan dan alat pribadi tidak dapat menularkan penyakit ini.

Komplikasi Trichomoniasis

komplikasi trichomoniasis
Trichomoniasis yang tidak ditangani dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius,

Trichomoniasis yang tidak ditangani dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius, terutama pada ibu hamil. Ibu hamil yang mengidap penyakit ini dapat menularkan penyakit ini ke bayinya saat proses persalinan. Akibatnya, bayi terlahir prematur atau terlahir dengan berat badan rendah.

Selain itu, Trichomoniasis yang terjadi pada wanita dapat membuat penderitanya lebih rentan terkena infeksi HIV.

Diagnosis Trichomoniasis

diagnosis trichomoniasis
Dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan untuk memastikan seseorang terkena Trichomoniasis.

Untuk memastikan bahwa seseorang menderita penyakit ini, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada organ kelamin pasien, serta mengambil sampel cairan vagina (pada wanita) atau urine (pada pria) untuk diteliti di laboratorium.

Butuh waktu beberapa hari untuk melakukan pemeriksaan sampel cairan vagina atau urine. Meski hasil lab belum keluar, pasien tetap akan ditangani untuk mengurangi risiko penularan infeksi.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pasien poisitif menderita penyakit ini, dokter akan menyarankan pasangan seksual pasien untuk diperiksa dan diobati juga.

Pengobatan Trichomoniasis

pengobatan trichomoniasis
Penyakit Trichomoniasis yang diobati akan sembuh dalam waktu tujuh hari.

Untuk mengobati penyakit ini, dokter akan meresepkan antibiotik. Obat antibiotik bisa diminum sebagai dosis tunggal dan besar, atau dikonsumsi 2 kali sehari, selama 5-7 hari, dengan dosis yang lebih kecil.

Baca juga: Mirip Sifilis dan Herpes Simpleks, Penyakit Chancroid Sebabkan Luka Terbuka di Area Genital

Pasien juga dilarang melakukan hubungan seksual sampai dinyatakan sembuh oleh dokter. Selain itu, pasien harus menghindari konsumsi minuman beralkohol selama 24 jam setelah mengonsumsi antibiotik, karena bisa menyebabkan mual dan muntah.

Penyakit ini biasanya sembuh dalam tujuh hari. Walau begitu, pasien dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan lagi ke dokter dalam 3 minggu hingga 3 bulan setelah pengobatan untuk memastikan dirinya tidak terinfeksi kembali.

Pencegahan Trichomoniasis

pencegahan trichomoniasis
Agar terhindar dari penyakit Trichomoniasis, batasi pasangan seksual.

Agar terhindar dari penyakit ini, batasi pasangan seksual Anda. Jangan bergonta-ganti pasangan seks.

Selain itu, jika Anda tak yakin pasangan Anda bersih dari penyakit kelamin, pastikan Anda selalu menggunakan alat pengaman atau kondom saat berhubungan intim.

Kebersihan juga menjadi faktor dalam mencegah penyakit kelamin Trichomoniasis. Selalu bersihkan alat genital Anda usai berhubungan seksual. Khusus wanita, gunakan pembersih khusus kewanitaan saat sedang haid.

Tapi, hindari penggunaan pembersih vagina yang mengandung sabun karena dapat mengganggu keseimbangan pH vagina. Untuk menggantinya agar bakteri tuntas dibersihkan, pembersih yang mengandung povidone-iodine bisa jadi pilihan.


Disclaimer: “Hasil pengobatan mungkin tidak persis sama karena tergantung situasi dan kondisi pasien”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Konsultasi Online Gratis